Berhenti Mempedulikan Apa Kata Orang

Jum'at, 29 September 2023

Not Dear Diary...

Bisa dibilang saat ini aku sedang berada dalam fase terkungkung oleh diriku sendiri, mengapa?, karena fase yang aku kira telah berhasil terlewati tanpa disadari malah menjadi boomerang dan efeknya semakin meluas, meluluh lantahkan fisik dan mental serta potensi potensi yang seharusnya bisa diraih dengan gemilang dan tanpa hambatan.

Aku sedang berperang melawan diriku sendiri, melawan rasa trauma, rasa ketakutan dan hal hal negatif lainnya yang belasan tahun lamanya berhasil memojokkan diriku hingga ke ujung dinding belakang, dan anehnya baru kusadari sekarang bahwa untuk apa mempedulikan apa kata orang mengenai diri kita?, aku bersumpah selama ini aku hidup di tengah bayang bayang rasa ketakutan akan reaksi orang terhadap diriku khawatir jika yang aku lakukan akan menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa tidak suka, hal-hal yang ingin sekali aku ekspresikan dan ungkapkan, pemikiran pemikiran gila dan absurd serta ide ide mengenai sesuatu yang mungkin bagi orang lain tampak aneh tapi untukku sangat masuk akal.

Pendeknya aku 'tidak menjadi diriku sendiri' lagi

I'm no longer myself, i become someone else but in a negative way..

Aku rindu mengeskpresikan diriku yang sesungguhnya dengan melakukan aktivitas yang aku sukai, bermain basket, menulis berjam jam tanpa gangguan dan suara bising di kepala maupun di sekitar, aku merasa tenang saat aku memasak sesuatu di tengah suasana rumah yang hening, aku ingin membaca dengan asyik dan mengeluarkan reaksi reaksi random terhadap tulisan yang aku baca, saat fokus berolahraga dengan lagu yang sama dan pergulatan batin antara diriku sendiri melawan ego.

Aku merindukan betapa bahagianya, betapa menyenangkan dan betapa serunya menjadi diriku sendiri.

Kupikir dengan aku menjadi orang lain, berpura pura menjadi seseorang yang sepaham dan sejalan dengan orang di luar sana, bahkan keluargaku sendiri, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, pengakuan, pujian, dianggap 'nyata' wujudnya dan diapresiasi. Yang paling aku harapkan adalah saat orang orang menganggap kehadiranku, mensejajarkan ku dengan orang orang yang lebih dulu dianggap sempurna dalam segala hal.

Aku pikir dengan berubah menjadi orang lain, perasaanku bisa terasa lebih tenang, lebih bahagia, nyatanya aku semakin tenggelam dalam pusaran bernama kebohongan.

Saatnya fokus untuk memikirkan diri ku sendiri... melakukan yang selama ini aku hentikan hanya karena perasaan khawatir atas tanggapan orang. Saatnya mengenali diri lebih dalam dan mencari jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang masih belum terjawab dan membahagiakan diri karena tanpa sadar aku masih mempedulikan apa kata orang terhadap diriku, aku tidak membahagiakan diriku sendiri dan terlalu sibuk memvalidasi pendapat dan kritikan orang orang yang berkonotasi negatif, menelan bulat bulat semuanya, sehingga perlahan kehilangan 'dirinya' yang asli.

Mari berbenah dan menyembuhkan luka demi luka yang hingga kini masih membasah, memperbaiki apa yang sedang terjadi serta menerima kenyataan bahwa waktu tak akan mungkin terulang

Dan mungkin membuka hati juga mencari seseorang yang mau menerima kerandoman dan ketidakjelasanku, setidaknya dia tidak berkomentar yang aneh aneh, instead dia menyukai diriku apa adanya, aku akan tetap berharap meski kenyataannya kecil kemungkinan

Dearest Rara...
Sit in someone else's room, 13.17 p.m

Komentar