Bulan Maret Ini

Not Dear Diary....

Tak terasa Bulan Maret kini telah berada di penghujung, malam ini tepatnya tanggal 31 Maret 2022, bulan yang menurutku sama menjemukan nya dengan bulan bulan lainnya, ada perasaan aneh yang sekarang kini sedang kurasakan. Tepatnya perasaan hampa,kosong,pasrah,cemas dan marah, tepatnya pada keadaan hidup yang kini sedang kujalani.

Jujur saja, memang tahun 2021 yang lalu, aku sedang berada pada puncak semangat ku yang paling tinggi, Rara yang penuh semangat, energik, ambisius dan juga hangat yang juga sama bersemangat nya untuk meraih impian impian dan cita cita yang ia tuliskan di dinding mimpinya. Bisa dibilang saat itu aku tak pernah sebaik tahun tahun sebelumnya, tahun tahun dimana aku merintis, tahun dimana aku baru memulai. Kepolosan anak remaja yang tiba tiba ditampar kenyataan bahwa dunia tempatnya hidup dan berpijak tak sebaik dan seindah yang ia kira, tahun 2018 telah terlewati dengan teka teki yang luar biasa, 2019 juga telah terlewati serta amat membekas karena bersamaan dengan hadirnya satu peristiwa yang menjadi cikal bakal diriku saat ini, namun 2020 tampaknya berbaik hati membuatku belajar bahwa dari setiap proses yang kita tekuni dengan penuh kesabaran akan mencapai hasil yang tak disangka sangka pula ditambah dengan pelajaran hidup yang amat berharga dan belajar mengenali karakter orang yang amat sangat berbeda. 

Tahun 2020 buatku menjadi titik balik, titik balik baik untuk bisnisku yang saat itu sudah berjalan selama 2 tahun dan untuk diriku sendiri yang akhirnya tersadar bahwa perubahan akan datang saat kita menyadari bahwa kita sudah terlalu jauh melangkah, melangkah tanpa tujuan dan tanpa semangat yang menjadi sumbu dalam menjalani hidup ini. Perlahan aku berposes menjadi Rara yang aku inginkan dan 2021 awal memang adalah saat yang sangat membahagiakan untuk diriku, rencanaku untuk kuliah memang sudah ada di kepala jauh jauh hari, aku selalu memikirkan sejarah dan hal hal berbau politik dan sastra saat aku masih duduk di bangku menengah pertama. Sehingga saat mengenal sbmptn dan ujian nya yang bernama UTBK aku dengan semangat menggebu berharap melalui tes masuk perguruan tinggi negeri itu dapat menjadi jalan untukku memasuki jenjang kuliah, jujur saja persiapanku masih sangat jauh dari kata siap, aku berpikiran pendek bahwa aku mempunyai dana untuk berkuliah, tanpa memikirkan secara mendetail mengenai kesiapan mental, kesiapan manajemen waktu dan hal lainnya, aku terlena dengan 1 hal penting, 

kuliah bukan hanya sekedar melanjutkan pendidikan ke bangku lebih tinggi, namun lebih dari itu ; Kuliah merupakan penanda bahwa di usia kita saat ini, hidup bukan sekedar ajang permainan, hidup juga bukanlah perlombaan menjadi siapa yang terbaik, siapa yang terkaya dan siapa yang terpintar. Tapi mempertanggungkan apa yang telah kita lakukan, yang sedang kita lakukan dan yang akan kita lakukan beserta tujuan dan alasan mengapa kita melakukan hal itu. Dan semua itu akan berdampak setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap harinya dan saling terkoneksi satu sama lain hingga waktu berhenti dan ajal menjemput, kita akan mempertanggungjawabkan semua itu kepada Tuhan Sang Pencipta.

Kembali kepada topik utama, namun aku memang masih sangat berpikiran terlalu sempit dan menyepelekan masalah itu. Setelah mempertimbangkan ulang berkali kali dan meyakinkan diri aku memutuskan untuk mengambil gapyear, dengan harapan dapat mengumpulkan uang lebih banyak lagi, sudah siap secara mental dan lainnya. Juga aku sudah dapat menguasai skill yang akan diperlukan saat menjalani perkuliahan ke depannya. 

Dan disaat bersamaan sebuah peluang bagus muncul, tawaran investasi yang menjanjikan datang dari seorang karyawan toko tempat aku mencari penghasilan, ahhh rasanya jika kembali mengingat ngingat hal itu lagi ingin aku berlari ke tempat antah berantah dan berteriak sampai mampus. Menyesali semua hal yang dengan bodohnya aku lakukan saat itu. Setelah peristiwa bodoh itu terjadi, mendadak aku kehilangan fokus, setiap hari yang aku pikirkan hanyalah kekhawatiran, kegelisahan, kepanikan dan perhitungan untung dan rugi. 

Aku kehilangan hatiku pada bisnisku sendiri, padahal dia adalah aset terpenting, yang menjadi asal muasal aku bisa mendapatkan semua yang aku inginkan. Aku menjalani nya dengan setengah hati dan itu sangat berimbas ternyata. 

Aku tidak ingin lagi bercerita banyak. Namun dari kejadian kejadian yang lalu aku menyadari satu hal. Aku bukan belum siap, aku hanya tak pernah siap. Itu saja, aku berharap dengan bulan bulan dan juga tahun tahun yang telah terlewati mengajarkan sebuah pelajaran penting. 

Aku harus menjadi lebih kuat, aku harus berjuang lebih giat lagi, aku harus bisa menjaga perasaan agar tidak berimbas ke dalam pekerjaaan ku. Dan pastinya lebih terbuka. Aku sangat berharap bulan April besok membawa gairah baru dan juga harapan baru untukku dalam segala hal, terutama bisnis dan pendidikan ku. Aku berharap bisa berkuliah tahun ini dan bisnisku semakin berkembang pesat sehingga bisa membantu keluargaku 

Ready to sleep, 22:39 p.m
March 31st 2022

Komentar