Menulis Di Tengah Himpitan Emosi

Senin, 27 Maret 2023

Not Dear Diary....


Aku selalu berkaca kepada masa lalu, apa yang aku lakukan dan apa yang aku inginkan pada masa itu, apa yang aku rasakan dan apa yang butuhkan. Mencoba mencari tahu segalanya karena aku merasa aku tidak begitu mengenali diriku di masa lalu karena pada masa itu aku hanyalah seorang gadis kecil yang tidak begitu banyak mengerti mengenai arti kehidupan dan kebingungan dengan arah kehidupannya sendiri. Tidak memegang teguh prinsip ku dan tidak yakin dengan dirinya sendiri. Namun satu hal yang pasti aku kenali dari diriku sendiri adalah 2 hal yang tak bisa dipisahkan dari seorang gadis kecil yang begitu menyukai buku dan senang menulis, 2 hal yang menurutnya adalah 'dunianya' dan sepertinya tidak akan pernah bisa dipisahkan sampai akhir hidupnya tiba.

Aku membaca sejak aku mulai bisa membaca mungkin? Atau lebih tepatnya saat aku memasuki bangku sekolah dasar sekaligus bangku pesantren, disaat itu aku dijejali dengan banyak buku oleh kedua orangtuaku dan aku merasa sangat senang, bersyukur sekaligus beruntung memiliki orangtua supportif terutama Mamah yang juga sama sama menyukai buku dan menularkan hobinya kepadaku sejak kecil sehingga saat ini aku masih tetap mempertahankan kebiasaan itu (read : membaca). Meskipun saat itu bacaanku belum beragam namun aku sudah mengetahui buku seperti apa dan bagaimana cara penyampaiannya, aku yakin semua pembaca buku sepertiku bisa mengerti apa maksud yang aku sampaikan disini, berbeda orang berbeda bahasa sekaligus gaya kepenulisan bukan? .

Sekaligus umur ku yang bahkan saat itu belum menginjak usia 10 tahun jadi aku dibekali dengan buku buku berbahasa formal bertemakan 25 Nabi dan Rasul serta khulafaur Rasyidin yang di khususkan untuk anak anak dan disaring semaksimal mungkin demi menjauhkan kami terhadap hal hal yang tidak diinginkan yang sayangnya tidak berhasil (untukku pribadi karena keterlaluan penasaran) hingga hari ini aku masih berusaha untuk terus konsisten membaca buku secara rutin yang aku harapkan agar hal postif ini bisa semakin baik di tahun ini dan tahun tahun berikutnya.

Begitupula dengan kegiatan bernama menulis, aku tidak begitu mengingat kapan persisnya aku mulai menulis dan apa yang aku tulis karena saat ini semuanya mulai terasa samar samar, aku berharap bisa mengingat momen itu dengan baik dan rinci karena aku yakin aku bisa menemukan sesuatu yang lebih baik dari tulisan tulisan yang aku buat dan mencari tujuan serta semangat dari tulisan tersebut agar saat aku mulai merasa kehilangan arah, kehilangan tujuan dan semangat, tidak mempunyai teman untuk bercerita dan berbagai hal negatif lainnya yang seringkali membelenggu diriku.

Aku awalnya memang lebih sering menulis kumpulan cerita cerita pendek, berlanjut kepada satu cerita dengan banyak sub judul. Perasaan senang dan selalu bersemangat untuk menulis itu selalu membuatku tiba tiba saja merasa harus menulis saat itu juga saat ide datang tiba tiba dalam kondisi yang tidak memungkinkan, aku yang bingung dengan kondisi yang seringkali ini terjadi akhirnya memutuskan mengesampingkan kegiatan apapun termasuk belajar dan memilih menulis cerita yang menurutku jika ditunda untuk dituangkan kedalam kertas akan menguap begitu saja di dalam pikiran, tertimpa oleh banyak hal dan rasanya vibes dan ide yang aku tuangkan akan berbeda jika tidak menuliskannya saat itu juga.

Seiring waktu atau kata lainnya lambat laun aku merasa lebih nyaman dengan kegiatan journalling, Anne Frank (she's such an inspiration teenage girl in the entire world especially in my life) menginspirasiku untuk memulai kegiatan journalling, intinya aku harus menuliskan keseharianku di selembar kertas, menuangkan semua yang aku rasakan di hari itu, apa yang terjadi, apa yang membuatku merasa badmood atau sebaliknya, tidak ada rules didalam kegiatan journalling ini, hanya ada aku dan sebuah buku. 

Journalling benar benar mengubah hidupku (tidak secara keseluruhan karena saat ini aku merasa belum menjadi pribadi yang lebih baik dari segi apapun) aku bisa mengontrol emosiku, aku bisa mengutarakan dan menyuarakan apa yang aku ungkapkan tanpa berbicara kepada orang lain dan tanpa harus menyinggung perasaan mereka, aku bisa menceritakan apapun, apa yang aku rasakan,apa yang aku butuhkan dan apa yang aku lakukan. Meski pada kenyataannya aku masih berusaha untuk konsisten agar bisa terus menulis setiap hari di waktu yang sama, pukul 08.00 malam ke atas.

Journalling telah membantuku melewati banyak hal, menyelamatkanku setelah hampir jatuh ke dalam jurang yang amat dalam dan gelap, salah satu cara yang Allah berikan untuk menyelamatkanku adalah dengan kegiatan journalling ini, yang aku harap bisa aku lanjutkan sampai aku masih diberi umur oleh Allah. Sayangnya aku baru mengenali kegiatan journalling ini saat aku sudah genap berusia 18 tahun sehingga penyesalanku hanya satu, kalau saja aku sudah menulis keseharianku di secarik kertas atau sebuah buku sejak dulu, menumpahkan semua emosiku dan melampiaskan semua perasaan negatif dan perasaan positif yang aku alami atau saat aku sedang merasa sendiri di dunia ini ke dalam sebuah tulisan yang nantinya anggaplah hanya dinikmati untuk diriku sendiri, tidak perlu panjang panjang atau bahasa yang indah, aku hanya harus mengeluarkan keluh kesah dan apa yang aku rasakan, menjadi diriku sendiri dan setidaknya aku tidak harus melewati masa masa kelam pada saat itu.

Masa masa dimana aku merasa stress, overthinking dan merasa diriku adalah orang paling aneh, paling hancur sehancur hancurnya dan paling menyedihkan sepanjang masa, tidak akan melampiaskan rasa amarah, kesal, kecewa, dengki dan sedihku dengan overeating (tetap makan dalam keadaan tidak lapar) eating disorder (gangguan makan), makan dalam jumlah tidak terkendali (surplus kalori) dan tidak menjaga gaya hidup dan tidak berolahraga secara teratur, tidak mempedulikan diriku sendiri, hidup tanpa ada tujuan dan tidak mempunyai pegangan hidup

Sekalipun aku menunaikan ibadah Shalat Fardu, meski aku tetap mengaji Alqur'an, meski aku selalu percaya kepada Allah yang wahid semua itu seakan tidak membuatku merasa lebih baik, perasaan gelisah, perasaan cemas, trauma berkepanjangan dan ketakutan tetaplah ada dan Allah membantuku melalui journalling, yang kalau tidak aku lakukan 3 tahun yang lalu tidak akan membuatku merasa lebih baik, ternyata benar salah satu fungsi menulis untuk kesehatan mental salah satunya adalah mencegah overthinking, stress dan depresi yang selama ini aku rasakan 10 tahun terakhir. 

Penyesalan tetap adalah sebuah penyesalan, tidak akan bisa dihentikan atau diubah. Namun masih bisa diperbaiki di kemudian hari dan selama kita masih diberi keyakinan bahwa kita masih diberi kekuatan, kesabaran, ketabahan dan self acceptance atau menerima semua yang telah terjadi, aku yakin semangat untuk terus berjuang menperbaiki diri menjadi versi terbaik yang kita inginkan akan selalu datang tanpa lelah dan hasilnya akan terasa jauh lebih indah.

Komentar